Friday, 11 April 2014

Posted by deni hermanto |

            "Ketika semua daerah menggunakan bahasa daerah masing-masing, lantas siapa yang menggunakan bahasa Indonesia?", pertanyaan itulah yang terlintas didalam benak saya saat ini.

Sebelum kita menuju ke topik diatas, kita coba flashback kembali mengapa presiden pertama Indonesia menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dalam keputusan geopolitik yang sudah matang. Saya pikir, Soekarno pun sudah sangat paham betul bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mempersatukan ratusan  bahasa di Nusantara. Mungkin begitulah alasan soekarno. Wallahu’alam bissawab.

Sekarang kita coba bayangkan…
Bila masyarakat Indonesia menggunakan bahasa daerah masing-masing disetiap daerahnya, apa yang yang terjadi? Yang terjadi adalah bila kita berkunjung ke suatu daerah dengan bahasa yang berbeda, tentunya kita akan bingung dan sulit untuk berkomunikasi dengan masyarakat disana. Misalkan, Saya adalah orang dari masyarakat Cirebon yang sudah terbiasa menggunakan bahasa bebasan sebagai bahasa sehari-hari dan saya tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia sama sekali. Suatu hari saya ada keperluan ke kota Medan, akan tetapi masyarakat medan disana tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia karena sudah terbiasa menggunkan bahasa batak dalam kesehariannya yang tidak saya mengerti. Apakah akan terjadi suatu komunikasi antara saya dan masyarakat medan disana? Tentunya tidak. Saya dan masyarakat disana pastinya sama-sama kebingungan. Bukan begitu?

            Sebelum lebih lanjut saya akan sedikit  klarifikasi terlebih dahulu, saya menulis demikian bukan didasari karena saya tidak menyukai bahasa daerah, saya bangga dengan Indonesia yang memiliki beraneka ragam bahasa. Tetapi saya menulis seperti ini karena saya banyak menemukan fakta-fakta di lapangan, dari orang tua, muda-mudi bahkan anak kecil disekitar daerah saya enggan menggunkan bahasa Indonesia, alasanya macam-macam ada yang malu, takut dibilang ‘sok’ bila menggunkan bahasa Indonesia, ada yang tidak bisa sama sekali dan masih banyak lagi alasan lainnya.
Coba kita amati dari beberapa alasan yang disebutkan diatas, sekarang kita coba menguapasnya sedikit dan selebihnya terserah di diri kita masing-masing.

Malu menggunkan bahasa Indonesia?
Malu di Agama saya adalah sebagian dari Iman, akan tetapi malu pada kasus yang satu ini tentulah bukan malu yang tepat. Bila masyarakat Indonesia malu menggunakan bahasa Indonesia, lantas siapa yang menggunakan bahasa Indonesia? Tidak mungkin Negaratetangga dong.

Takut dibilang ‘sok’ bila menggunakan bahasa Indonesia?
Fakta ini sungguh aneh… 'sok' sebelah mananya? Kita orang Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia. Apa itu bisa dibilang ‘sok’? Tentu tidak, itu kan bahasa kita, saya perjelas sekali lagi, itu bahasa kita !!! Kenapa kita dibilang ‘sok’ bila menggunkan bahasa Indonesia? Something is wrong with this country !!!

Tidak bisa sama sekali menggunkan bahasa Indonesia?
Alasan yang satu ini adalah alasan yang memperhatinkan, orang Indonesia yang seharusnya menggunkan bahasa Indonesia tapi ternyata tidak bisa berbahasa Indonesia. Alasan yang satu ini sebenarnya adalah efek dari alasan-alasan karena orang kita tidak membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia terdengar asing untuk mereka yang telah terbiasa menggunkan bahasa daerah masing-masing. Mungkin bila kita juga terbiasa menggunkan bahasa daerah sedangkan bahasa Indonesia nya tidak pernah sama sekali kita gunakan, kemungkinan besar nasib kita akan sama dengan  mereka TIDAK BISA SAMA SEKALI BAHASA INDONESIA  dan bisa jadi itulah awal kepunahan bahasa Indonesia. Sebelum itu terjadi, maka dari itu mari kita  berbahasa Indonesia demi kelestarian bahasa Indonesia !!!

Sumber : http://agiesaputra.blogspot.com/2014/03/bahasa-yang-punah.html
Posted by : @AgieSaputra_

0 comments:

Post a Comment